EVOLUSI COACHING LIMA DEKADE
Asal Muasal Metode Coaching
Coaching tidak lahir dari satu disiplin tunggal. Ia berkembang melalui berbagai jalur pemikiran yang saling memperkaya selama lebih dari lima dekade. Setidaknya ada lima jalur keilmuan yang mematangkan bidang ilmu, kompetensi, dan praktik coaching hingga menjadi seperti banyak dikenal saat ini:
- Jalur Konseling: Gerakan Potensi Manusia
Pada tahun 1961, Rogers menerbitkan bukunya yang paling berpengaruh, On Becoming a Person. Buku inilah yang menjadi “kitab suci” bagi gerakan pengembangan potensi manusia yang disebut Human Potential Movement yang memuncak pada 1960-an. Rogers menggeser peran konselor dari “memperbaiki masalah” menjadi fasilitator yang menyediakan ruang yang aman dalam upaya “memfasilitasi pertumbuhan”. - Jalur Psikoterapi: Revolusi Fokus pada Solusi
Dimulai dari praktik dan penelitian sejak 1930-an, Milton H. Erickson memperkenalkan pendekatan Solution-Focused yang revolusioner. Alih-alih menggali penyebab trauma masa lalu, Erickson menekankan pemanfaatan sumberdaya internal dan imajinasi klien untuk menemukan solusi dari dalam diri sendiri. Metode ini disempurnakan oleh Marilyn Atkinson pada tahun 1980 menjadi metode Ericksonian Coaching yang merupakan jantung dari program The Art & Science of Coaching. - Jalur Mentorship: Dialog Reflektif Mentor
Riset David Clutterbuck mengenai mentoring di Inggris pada pertengahan 1970-an merupakan titik balik krusial yang meruntuhkan tembok persepsi mengenai mentoring tradisional. Puncaknya adalah publikasi bukunya yang fenomenal, Everyone Needs Mentor di tahun 1985. Temuan risetnya mendapati bahwa mentor yang paling efektif justru tidak sekedar memberikan arahan atau instruksi; melainkan membuka dialog reflektif dengan menggunakan pertanyaan untuk memicu kesadaran diri. - Jalur Olah Raga: Formula Mental Juara
Dunia pelatihan olah raga terguncang saat W. Timothy Gallwey menerbitkan The Inner Game of Tennis. Ia membuktikan bahwa lawan terberat atlet bukanlah musuh di lapangan, melainkan hambatan mental yang muncul dari dalam diri sendiri. Galloway memperkenalkan formula legendaris: “Performance = Potential – Interference”. Coaching pun mulai dipandang sebagai metode untuk menjernihkan dialog internal dari suara-suara negatif yang menghambat prestasi manusia. - Jalur Manajemen: Mencapai Kinerja Puncak
Sebagai seorang konsultan manajemen, Sir John Whitmore kemudian membawa prinsip Inner Game ke korporasi. Melalui model GROW (Grow, Reality, Options, Will/Ways), coaching resmi menjadi sarana kepemimpinan bisnis yang sistematis untuk memastikan kejelasan tujuan yang ingin dicapai dan komitmen atas tindakan di dunia kerja.
Menuju Perubahan Nyata dan Berkelanjutan
Kelima jalur tersebut membentuk pondasi coaching modern, namun kompleksitas manusia tidak berhenti pada percakapan, refleksi, atau motivasi psikologis semata. Pertanyaan mendasarnya adalah:
“Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “potensi” manusia?”
dan
“Bagaimana potensi manusia dapat diaktivasi secara nyata?”
Neurosains menghadirkan lensa baru untuk memetakan secara terstruktur dan terukur bagaimana otak memproses tujuan, emosi, kebiasaan, dan keputusan. Melalui pendekatan neurosains, coaching memasuki fase baru. Coaching bukan lagi hanya sebagai seni bertanya, melainkan sebagai intervensi berbasis sains untuk mengubah cara otak bekerja.
Salah satu studi awal yang sering dirujuk dalam diskursus neuroscience dan coaching dilakukan oleh Richard Boyatzis pada tahun 2013, yang menggunakan fMRI untuk menunjukkan bahwa pertanyaan terbuka yang memicu harapan mengaktivasi jaringan otak yang berbeda dibanding pertanyaan evaluatif yang bernada kritik. Namun penting dicatat bahwa studi tersebut dilakukan dalam format in-depth interview, bukan dalam konteks sesi coaching secara utuh. Artinya, hingga saat itu, belum ada penelitian neurosains yang secara langsung menguji dampak coaching terhadap aktivitas otak manusia.
Terobosan tersebut kemudian dilakukan oleh Lyra Puspa melalui studi qEEG sejak tahun 2017, dengan mengukur aktivitas otak sebelum, selama, dan setelah sesi coaching yang sesungguhnya. Riset ini menjadi kajian pertama di dunia yang secara empiris menguji coaching sebagai intervensi psikofisiologis yang dapat diukur secara obyektif, bukan lagi pengukuran subyektif dari perspektif coach ataupun coachee. Temuan ini menunjukkan bahwa coaching berpotensi mengaktivasi dan memodulasi sistem syaraf tertentu yang berkaitan dengan arah perubahan yang diinginkan. Riset ini menjadi cikal bakal pendekatan coaching mutakhir yang disebut Brain-Focused Coaching – sebuah kontribusi signifikan bagi dunia coaching maupun neurosains terapan.
Evolusi coaching mencerminkan evolusi cara kita memandang manusia. Dari potensi, ke kinerja, hingga transformasi — coaching terus bergerak mengikuti kompleksitas manusia.
Maka, sejauh mana kita sudah mampu memahami apa yang dimaksud dengan potensi manusia?
– Lyra Puspa,
CEO Vanaya Institute
Program Terdekat
Onboarding: 16 April 2026 Mentoring, 24 April, 8 Mei, 12 Juni 2026
Level 1 Mentoring Batch 10 Jakarta
18 Office Park 15th Floor JI. TB Simatupang Kav 18, Jakarta
Essentials 1: 7 - 10 Mei 2026 Essentials 2: 20 - 23 Mei 2026
TASC Essentials Batch 41 Jakarta
18 Office Park 15th Floor JI. TB Simatupang Kav 18, Jakarta
Essentials 1: 16 - 19 Juli 2026 Essentials 2: 23 - 26 Juli 2026
TASC Essentials Batch 42 Online
Zoom Meeting Outside Jakarta-Banten-Jabar Regions
Essentials 1: 20 - 23 Agustus 2026 Essentials 2: 27 - 30 Agustus 2026
TASC Essentials Batch 43 Jakarta
18 Office Park 15th Floor JI. TB Simatupang Kav 18, Jakarta
Onboarding: 10 September 2026 Mentoring 18 Sep, 16 Okt, 13 Nov 2026
Level 1 Mentoring Batch 11 Hybrid
18 Office Park 15th Floor JI. TB Simatupang Kav 18, Jakarta
Essentials 1: 15-18 Oktober 2026 Essentials 2: 22-25 Oktober 2026
TASC Essentials Batch 44 Surabaya
HoteI TBA Surabaya